Contributor

Bayar Hutang Karbon melalui Hutan

Bayar Hutang Karbon melalui Hutan - Bumi diperkirakan berusia 4,543 miliar tahun. Planet tempat manusia bergantung hidup ini sudah kian menua. Jika dibandingkan, Potret lingkungan masa-masa film masih hitam putih, sangat kontras perbedaanya jika kita bandingkan dengan masa sekarang. Bisa jadi yang dulunya sungai sudah berubah jadi pemukiman padat. Jika dulu bentuknya hutan rimbun, bisa jadi wajahnya sekarang adalah sederetan gedung pencakar langit.
Bayar Hutang Karbon melalui Hutan
Ilustrasi jejak karbon oleh cablecartoons.com

Menua dan melemah, adalah proses alami dari bentuk suatu kehidupan. Keriput dan kurangnya kelincahan, adalah normal ketika kita sudah berusia lanjut. Mobil yang sudah dipakai berpuluh tahun, adalah wajar jika tidak mampu menandingi laju mobil sport keluaran terbaru. Sama halnya dengan bumi, kondisinya saat ini, tidak segagah milyaran tahun lalu. Naasnya, proses yang harusnya terjadi alami dan bertahap ini, kita paksa untuk terjadi dengan percepatan yang luar biasa. 

Jejak Karbon: Apa? Darimana? Bagaimana?

Sebuah kendaraan akan menjadi usang karena terus-menerus dipakai. Bibit yang disiram akan jadi pohon besar setelah puluhan tahun. Balok es akan kemudian menjadi cair karena sinar panas matahari. Untuk mencapai keseimbangan, akan selalu ada dua sisi.  Dan dalam hal ini, jejak karbon adalah bentuk konsekuensi dari aktifitas makhluk hidup di bumi.

Jejak karbon adalah sejumlah emisi gas rumah kaca (GRK) yang dilepaskan oleh pribadi atau kelompok dari suatu aktifitasdalam kurun waktu tertentu. Sederhananya, jejak karbon adalah jejak yang ditinggalkan dari setiap aktifitas makhluk hidup. Misalnya, ketika penulis mengetik artikel ini, atau ketika pembaca menggunakan gadget untuk membaca sebuah laman berita. Setiap aktifitas kita meninggalkan jejak, dan berita buruknya jejak inimerupakan bagian dari deretan pemeran utama drastisnya kenaikan suhu bumi dalam dekade terakhir.

Jumlah yang dilepaskan sangat bergantung kepada bentuk aktifitas harian, intensitas, serta kuantitas aktifitas tersebut. Meskipun tidak kasat mata, karbon yang kita bebankan ke bumi dari aktifitas harian kita dapat dihitung menggunakan instrumen bernama Kalkulator Karbon. Instrumen ini dikembangkan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) untuk menjembatani kebutuhan informasi dan untuk menghitung perkiraan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan di Indonesia.

Penghitungannya disesuaikan dengan kondisi dan situasi pola konsumsi energi serta gaya hidup masyarakat Indonesia, faktor emisi, yang juga disesuaikan dengan profil pasokan energi di Indonesia.
Untuk mengakses kalkulator karbon dari IESR, kita hanya perlu mengunjungi laman http://carboncalculator.iesr.or.id/dan mendaftarkan diri. Setelah pembuatan akun dikonfirmasi, yang perlu kita lakukan tinggal memasukkan jenis aktifitas intensitas, serta beberapa informasi registratif lainnya. Setelah selesai, otomatis karbon offset akan muncul.

Carbon offset, adalah “hutang” yang harus kita bayar sebagai imbas dari aktifitas kita yang berkontribusi pada penambahan beban karbon di bumi.
Bayar Hutang Karbon melalui Hutan
Contoh penghitungan jejak karbon, referensi : alamendah.org

Menagih Hutang Karbon

Selain bersifat mengikat panas, karbon (CO2) termasuk reaktif dan dapat berubah menjadi lebih berbahaya dari sekedar mengikat panas, memicu ledakan salah satunya. Kengerian ini bukan hal yang mustahil, dan memang sudah nyata terjadi di sekitar kita. Akumulasi dari beban karbon yang peningkatannya sangat drastis, belum diimbangi dengan tindakan solutif yang memadai.
Singkatnya, masih banyak yang belum membayar hutang!
Bayar Hutang Karbon melalui Hutan
Sumber : IESR, 2012

Berkaca pada pola konsumsi energi saat ini, IESR memprediksi 3,260,000,000 ton karbon akan dibebankan ke atmosfer. Proyeksi ini bisa jadi lebih buruk dampaknya jika kita belum juga mengambil bagian untuk membayar carbon offset.

Meskipun tidak benar-benar pelaku tunggal, dapat diakui bahwa aktivitas manusia merupakan penyumbang raksasa darimeningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi. Gas-gas rumah kaca ini dalam ambang batas aman berperan sebagai penyelamat bagi bentuk kehidupan di bumi. Karena tugasnyalah mengikat radiasi sinar matahari yang dipantulkan oleh bumi dan yang datang dari luar angkasa.

Gas rumah kaca dalam konteks ini berjasa penting dlam menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi. Berkat sifatnya yang mengikat panas, suhu bumi tetap hangat. Sebaliknya, jika bukan karena jasanya, suhu bumi akan menjadi dingin dan bentuk kehidupan yang terjadi akan sangat jauh dari kehidupan bumi saat ini.

Ibarat boomerang, kini Gas Rumah Kaca tersebut berbalik peran menjadi sosok yang tidak hanya mengkhawatirkan, namun juga mengancam. Karena sifatnya yang mampu mengikat panas, konsentrasi berlebih dari gas-gas ini akan menjadikan suhu bumi terlalu panas. Imbasnya kemudian mempengaruhi seluruh aspek kehidupan.

Perubahan ini memang tidak terjadi dalam satu malam. Akan tetapi jika kita menoleh ke belakang, bumi dahulu jauh lebih sehat dari sekarang. Perubahan yang normalnya terjadi dalam hitungan abad, kini dipercepat dalam hitungan tahun. Jika tidak sigap beradptasi, alam kemudian akan menyeleksi. Kekeringan, kepunahan satwa, cuaca ekstrem, dan deretan panjang bentuk ketidakseimbangan alam semakin sering dan nyata kita alami. Sederetan ketidakseimbangan inilah yang kini jadi permasalahan global, yang kemudian kita kenal sebagai perubahan iklim.
Bayar Hutang Karbon melalui Hutan
Akibat krisis air berkepanjangan, banyak hewan ternak yang mati. Sumber : Mugisha Paul, Climate Tracker
Hutan sebagai Pembayar Hutang Karbon
Norbert Binternagel dari Department of Human Geography, Georg-August University Goettingen dalam paparannya yang bertajuk "Promoting Adaptation and Mitigation to Climate Change (Examples form Europe and South East Asia) menyebutkan bahwa Indonesia adalah penyumbang gas emisi terbesar ketiga setelah Amerika Serikat dan China. Dimana sekitar 72 persen hutan hujan tropis Indonesia pada 2007 telah rusak akibat deforestasi (penebangan hutan).

Kondisi ini ibarat jalan yang (hampir) buntu, dimana komitmen tertulis untuk menurunkan emisi hingga 23% pada tahun 2030 belum juga menunjukkan indikasi pencapaian yang progressif. Release data WRI, hilangnya tutupan hutan Indonesia memuncak pada tahun 2012 seluas 928.000 hektar (2,3 juta hektar), turun secara signifikan pada tahun 2013 dan kemudian meningkat pada tahun 2014 dan 2015 menjadi 796.500 hektar (2 juta hektar) dan 735.000 hektar (2,8 juta hektar). Dengan kiprah buruk penggundulan hutan ini, Indonesia mengantongi gelar “Negara dengan Deforestasi Tercepat Kedua Di Dunia”, dimana upaya reforestasi nampaknya masih sulit mengimbangi angka deforestasi.

Keberadaan hutan sebagai pembayar carbon offset (hutang karbon) kian tergerus oleh tuntutan komoditi bisnis, dimana banyak hutan asli dialih-fungsikan, baik secara legal, maupun illegal. Namun tidak benar juga jika kita melulu sinis bahwa target pada 2030 akan tercapai.

Mei 2017, Sumatera Selatan (Sumsel) terpilih menjadi tuan rumah pertemuan Bonn Challenge Regional se-Asia Pasifik yang berlangsung di Palembang tanggal 9-10 Mei 2017.  Bonn Challenge sendiri merupakan inisiatif global yang menargetkan reforestasi 150 juta hektar lahan pada tahun 2020.

Selain Indonesia, Pakistan merupakan Negara dengan tingkat deforestasi tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Dalam rekor terburuknya, Pakistan pernah dilanda gelombang panas yang mencapai 50°C. Tak ingin menyepelekan pertanda alam, masyarakatnya bergegas dan berlomba menjadi bagian dari solusi. Baru-baru ini, mantan atlet Kricket Pakistan, Imran Khan, menjalankan proyek “Billion Tree Tsunami” (Tsunami Pohon Semilyar) untuk mereforestasi Khyber Pakhtunkhaw, salah satu provinsi yang mengalami deforestasi terburuk.  IUCN menyebutkan, dalam kurun 2 tahun, Pakistan telah menanam 1 Milyar pohon.

Untuk memerangi perubahan iklim, menanam pohon adalah solusi termurah dan termudah yang sejatinya dapat dilakukan bersama. Pohon akan mengikat emisi karbon dalam proses fotosintesanya, yang artinya secara langsung dapat menurunkan suhu bumi. Dengan kata lain, penanaman pohon akan membantu tercapainya keseimbangan siklus alam.

Masih segar diingatan kita sebuah pernyataan kontroversial seorang hakim yang menyebutkan pembakaran hutan bukan termasuk perusakan lingkungan, sebab masih bisa ditanami kembali. Pernyataan ini bisa jadi entitas apatisme, tapi juga optimisme. Sebuah apatisme jika kita menganggap perusakan alam massif yang tanpa diiringi “rasa bersalah”.

Bisnis yang berkawan akrab dengan alam akan lebih panjang umurnya, sehingga tidak ada alasan yang dapat jadi pembenaran hakiki bahwa merusak alam satu-satunya jalan keluar. Pun, sebuah optimisme juga harus kita tanamkan dari sekarang. Indonesia memiliki jangka waktu 3 tahun menuju target akhir Bonn Challenge dan 13 tahun menuju tenggak target menurunkan emisi hingga 23%.

Banyak fakta perusakan alam yang jelas-jelas ingin menyentil rasa bersalah dari kita. Sudah saatnya masyarakat bahu-membahu menjadi bagian dari solusi yang dituangkan dalam tindakan nyata.  Alam adalah satu-satunya tempat bertumpu kita, dan menjaganya bukan lagi sebuah jawaban dari rasa bersalah, namun kewajiban kita bersama. 

Written By : Desi Saragih

Medan Wisata

Untuk Informasi Tentang MedanWisata.com bisa lihat di menu About Atau hubungi kami langsung melalui menu Contact yang tersedia || Bagi yang ingin Mengirimkan Artikelnya bisa kirim ke Email : medanwisatacom@gmail.com Terima Kasih

0 komentar:

Posting Komentar

# Silahkan Anda Berkomentar dengan Baik dan Sopan
# Pesan dilarang Mengandung SARA dan Spam
# Terima Kasih Telah berkunjung di MedanWisata.Com

Diberdayakan oleh Blogger.